PKBM Putri Mandiri

Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat di Kelapa Gading

Tiga cara untuk berkata “Jangan” Manakah yang tepat?

Bagaimana Ayah dan Ibu mengatakan “Jangan” pada si kecil?

Banyak ahli berpendapat bahwa kata ini adalah satu yang paling harus dihindari dalam mengasuh anak, tapi bisakah kita menghindari sama sekali kata Jangan?

Daniel Goleman membahas secara khusus perihal “Jangan” ini dalam bukunya “Social Intelligence” dari sisi ilmu otak sosial, berikut ikhtisarnya… Bayangkanlah bayi berusia 14 bulan. Ia begitu gemar mengeksplorasi segala hal di sekitarnya. Kali ini ia akan memanjat sebuah meja, sedangkan di atas meja itu ada sebuah lampu yang posisinya labil. Inilah beberapa cara orangtua untuk merespons situasi ini.

1. Berkata “Jangan!” dengan tegas dan kemudian beritahu dia bahwa memanjat seperti itu hanya boleh dilakukan di luar rumah –dan bawalah ia kesana untuk menemukan tempat yang tepat untuk itu.

2. Mengabaikan usaha anak untuk memanjat meja, bersiap-siaplah untuk mendengar suara benda yang jatuh, dan dengan tenang beritahulah ia untuk tidak melakukan hal itu lagi –dan kemudian tidak memperhatikan dia lagi.

3. Berteriak “Jangan!” dengan marah namun merasa bersalah karena bereaksi terlalu keras, kemudian memeluknya untuk menentramkan hatinya, lalu meninggalkan anak sendirian karena sudah mengecewakan.

Beberapa respon mungkin terdengar tidak masuk akal, tapi respon-respon itu mewakili gaya disiplin yang berulangkali ditemukan oleh Daniel Siegel, seorang psikiater anak UCLA. Ia merupakan salah satu pemikir yang berpengaruh dalam psikoterapi dan perkembangan anak serta perintis dalam ilmu saraf sosial. Menurutnya, tiap gaya disiplin akan membentuk pusat-pusat otak sosial dalam cara yang berbeda satu sama lain.

Perkenalkan OFC, singkatan dari Orbito Frontal Cortex. Bagian ini terletak di bagian belakang atas mata dan merupakan pertemuan tiga area utama otak : korteks (atau “otak yang berpikir”), amygdala (titik picu untuk berbagai reaksi emosi), dan batang otak (zona ‘reptilia’ untuk respon otomatis. Hubungan yang dekat ini memfasilitasi koordinasi instan pikiran, perasaan , dan tindakan. Kemahiran, hubungan baik, dan interaksi sosial yang mulus bergantung pada sirkuit saraf ini. Secara teknis, sirkuit OFC memberi “nilai hedonis” pada dunia sosial kita dengan membuat kita tahu bahwa kita senang dengan orang ini, amat tidak menyukai orang itu, atau memuja orang tertentu. Saat-saat pembentukan sirkuit ini juga terjadi ketika anak mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan, menjengkelkan, atau membingungkan. Saat anak melihat ke orangtuanya, ia tak hanya membaca apa yang mereka katakan namun mengamati seluruh prilaku mereka untuk mempelajari bagaimana harus merasa dan memberi respon. Secara perlahan, pesan-pesan dari orangtua itu membangun perasaan anak tentang dirinya sendiri dan bagaimana berhubungan dengan orang-orang di sekitar anak.

Mari kita ambil contoh respon pertama : Orangtua yang berkata jangan kepada bayi yang sedang berusaha memanjat meja, kemudian membawanya keluar untuk menyalurkan tenaganya. Dalam pandangan Allan Schore –kolega Siegel, seorang ahli social neuroscience–, interaksi itu secara optimal mempengaruhi korteks orbitofrontal anak dengan memperkuat “rem” emosional OFC. Dalam peristiwa itu rangkaian neuron meredam gairah awal si anak dan membantunya mengelola gejolaknya dengan lebih baik. Begitu anak ini memiliki “rem” saraf tersebut, orangtua mengajarkan bahwa gairah yang lebih pada tempatnya bisa dilanjutkan –ia bisa memanjat tangga-tanggaan di taman bermain namun bukan di meja. Pendekatan dimana orangtua menentukan batas dengan memberi alternatif seperti halnya yang di sampaikan Fitri Ariyanti, psikolog, dalam artikelnya Berkata Tidak pada si Dua Tahun, memberikan gambaran bagaimana gaya disiplin yang menghasilkan kelekatan yang terasa aman bagi anak. Kelekatan yang aman melahirkan keselarasan hubungan orangtua-anak. Dunia sosial memang sangat rumit bagi anak-anak usia dini, mereka masih sulit mengendalikan impuls karena OFC mereka masih kurang berkembang. OFC akan terus berkembang di masa kanak-kanak dan mengalami kecepatan yang tinggi saat anak memasuki usia 5 tahun, saat itu lebih banyak sirkuit otak menyala dan ia siap diantar ke sekolah. Percepatan itu terus berlangsung sampai kira-kira ia berusia 7 tahun dan percepatan ini amat berperan untuk membentuk kendali diri anak. Tak heran kalau ruang kelas dua SD tak seriuh kelas TK, bukan? Apa yang terjadi dengan otak anak saat orangtua terus menerus gagal untuk menyelaraskan diri dengan baik?

Mari tengok respon kedua : Orangtua yang merespons balita pemanjat meja dengan mengabaikannya. Respon seperti ini merupakan contoh hubungan orangtua-anak jarang terjadi (orangtua tak tahu apa yang sebenarnya diinginkan oleh anak dan sebaliknya). Anak-anak ini hanya bertemu frustasi ketika berusaha mendapatkan perhatian empatik dari orangtuanya. Orangtua-anak seperti ini tak pernah merasakan proses larut bersama, akibatnya tak pernah ada momen kesenangan atau kegembiraan sehingga anak akan cenderung untuk tidak mampu merasakan emosi positif dan sulit berhubungan dengan orang lain. Anak-anak dengan orangtua seperti ini tumbuh dengan berkecil hati, sebagai orang dewasa ekspresi emosi mereka terhambat, khususnya emosi-emosi yang akan membantu mereka menjalin ikatan dengan pasangan. Sebagaimana orangtua mereka, mereka tak hanya menghindar untuk mengekspresikan emosi namun juga menghindari relasi yang intim secara emosi.

Pada respon yang ketiga : Orangtua yang merespons pemanjatan meja dengan marah, tapi lalu diiringi perasaan bersalah lalu merasa kecewa, dilukiskan oleh Siegel sebagai orangtua yang “ambivalen”. Sekali-sekali mereka hangat dan peduli, namun lebih sering menampakkan isyarat tidak setuju atau penolakan kepada anak, dengan ekspresi wajah tidak hormat atau tidak suka, membelokkan tatapan mata anak, bahasa tubuh yang menujukkan amarah. Posisi emosi seperti ini dapat menyebabkan anak merasa direndahkan berulang-ulang kali. Anak yang diperlakukan seperti ini akan memiliki emosi yang tak dapat dikendalikan. Mereka tak dapat mengendalikan impuls-impuls dalam diri mereka. Mereka ibarat si anak nakal yang selalu dalam masalah. Menurut Siegel, penyebabnya adalah sirkuit OFC anak telah gagal menguasai cara mengatakan tidak pada impuls. Kadangkala, rasa tidak diperhatikan dan “apa yang aku lakukan selalu salah” berkombinasi hingga membuat anak merasa putus asa namun masih mengharapkan perhatian positif dari orangtua. Anak-anak ini akhirnya memandang diri mereka sendiri sebagai pribadi yang kurang baik. Saat mereka tumbuh dewasa, mereka cenderung menjadi sosok yang mengalami ambivalensi emosi yang akut. Rasa rindu kasih sayang berpadu dengan rasa takut yang hebat kalau tidak mendapatkannya dari pasangan terdekatnya, juga rasa takut yang lebih dalam akan ditinggalkan sama sekali. …. Jadi, Sudah siap bilang “Jangan”?

Gambar : tabloidnova.com Referensi : Goleman, Daniel. 2008. Social Intelligence. Jakarta : Gramedia

22 Maret 2011 - Posted by | PAUD PUTRI MANDIRI

1 Komentar »

  1. Senang sekali artikel http://www.asahasuh.com/bayi/103-tiga-cara-untuk-berkata-qjanganq.html ini dikutip disini. Masih banyak lagi artikel tumbuh kembang anak lainnya di situs asahasuh.com, mudah mudahan bermanfaat ya🙂

    Komentar oleh akhsamita rachmat | 21 Mei 2011 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: