PKBM Putri Mandiri

Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat di Kelapa Gading

Monyet yang Menyesal

Jakarta.go.id – Hari masih pagi, matahari baru mengintip di balik perbukitan. Namun demikian si tupai telah sibuk, ia berjalan kian kemari mencari buah kenari. Kenari-kenari itu diangkutinya ke sarangnya, sebuah lubang di pokok pohon tua yang besar.

Kesibukan si tupai rupanya telah mengganggu si monyet. Dengan terkantuk-kantuk ia menggeliat dari dahan tempat ia tidur. Setelah melihat ke kiri dan ke kanan, tampak oleh si monyet kesibukan si tupai.

“Hmm, dia lagi”, Gerutu monyet kesal, “Tak dapatkah ia tenang barang sebentar?”

Sesaat kemudian monyet melorot dati dahannya. Mujur, sebutir buah mempelam yang ranum ditemukannya tergeletak di tanah. Monyet pun memungut buah itu.

Sambil berjemur di bawah matahari pagi,monyetpun mengunyah mempelamnya. Sesekali ia menggosok-gosok matanya. Monyet itu masih mengantuk, namun tak mungkin ia tidur lagi, sebab kesibukan si tupai membuatnya merasa terganggu.

Saat menjelang senja, monyet duduk berayun-ayun di dahan seraya mengunyah jambu. Buah jambu itu ia temukan di cabang yang menjorok ke arahnya. Dan pada saat itu si tupai masih saja sibuk, berjalan kian kemari mengumpulkan buah kenari.

Lama-kelamaan monyet menjadi gusar melihat kelakuan tupai. “He tupai”, seru monyet, “Tak dapatkah kau diam barang sejenak? Pusing kepalaku melihat kelakuanmu, sedari tadi aku tak dapat tidur karena kelakuanmu” .

“Wah maafkan aku sobat”, sahut tupai, “Aku tak bermaksud mengganggumu”.

“Jika demikian, behentilah berputar-putar, kembalilah ke sarangmu”.

“Tetapi aku harus mengumpulkan makanan”.

“Astaga”, seru monyet gusar, “Mengapa lagi harus dikumpulkan makanan itu? Lihat jambu ini, juga kesemek dan mempelam. Semua yang kumakan ini datang sendiri menghampiri aku”, omel monyet. “Jadi berhentilah menimbun makanan, sungguh sia-sia kelakuanmu itu”.

Tupai hanya tersenyum mendengar perkataan monyet itu. Kebetulan hari mulai gelap. Maka tupai pun segera masuk ke sarangnya. Tumpukan buah kenari miliknya telah cukup banyak. Namun jumlah kenari itu belum cukup memuaskan tupai, ia memutuskan untuk mencari lebih banyak lagi esok hari. Malam itu, ia memakan sedikit persediaan kenarinya.

Esok harinya, tanpa menghiraukan omelan dan cemooh monyet, tupai kembali sibuk dengan pekerjaannya. Berhari-hari lamanya tupai kedl itu terus menerus sibuk dengan pekerjaannya.

Tibalah musim kemarau. Air sungai telah surut, dedaunan mengering, pepohonan merangas. Tak lagi ada buah yang dapat dipetik, tak lagi ada umbi yang dapat dipungut. Hutan telah kering. Namun bagi tupai tak ada yang dicemaskan, persediaan kenarinya cukup banyak. Ia dapat berbaring-baring dengan senang di sarangnya yang nyaman, terlindung dari terik panas matahari.

Bagaimana dengan si monyet? Alangkah malang nasibnya kini, setiap hari ia harus berjalan jauh, di bawah terik matahari untuk mencari makan. ltupun pendapatannya tak pernah banyak, akibatnya tubuhnya menjadi kurus kering kurang makan.

Sungguh menyesal hati monyet. Pada pikirannya, jika sewaktu musim penghujan ia rajin bekerja, mengumpulkan makanan, tentulah kini nasibnya tak akan semalang ini.

Referensi : Dinas Kebudayaan dan Permuseuman, Cerita Rakyat Betawi, 2004

Sumber : Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta

25 Mei 2010 - Posted by | Kumpulan dongeng

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: