PKBM Putri Mandiri

Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat di Kelapa Gading

Asal Usul Surabaya

Sebuah tusuk konde emas milik seorang bocah putri khayangan bernama Widuri, terjatuh ke bumi. Namun tanpa diduga dan menakjubkan, tusuk konde tersebut menciptakan sebuah aliran sungai yang kemudian dikenal dengan sebutan Kalimas.

Nama itu diberikan warga sekitar mengingat keberadaannya, permukaan sungai sempat terlihat bersinar-sinar keemasan. Namun sesungguhnya, kejatuhan tusuk konde telah diatur sedemikian rupa oleh Ambarukmo yang berniat ingin menyempurnakan ilmunya serta untuk membalas dendam pada sang raja dan ratu khayangan yang pernah mengusirnya.

Sementara sang pemilik tusuk konde emas, Widuri, mau tak mau harus terdampar dan tinggal menetap di bumi sambil menanti sebuah keajaiban yang dapat mengembalikan dirinya ke istana khayangan.

Sampai suatu ketika, Ambarukmo menemukan kesempatan untuk mendapatkan dan memiliki tusuk konde sang putri yang pernah hilang, dengan cara memperalat kedua muridnya yakni Rangin dan Panji.

Hal mana dilakukan oleh Ambarukmo karena kedua muridnya itu selalu bersaing dalam segala hal, termasuk urusan cinta. Dengan iming-iming akan mendapatkan cinta Widuri, maka Ambarukmo lantas memerintahkan Rangin dan Panji untuk berlomba menemukan tusuk konde emas.

Siapa yang lebih dulu menyerahkan tusuk konde emas pada Widuri, maka akan terpilih dna berhak menikah dengan Widuri yang selama ini mereka puja.

Dengan kelicikan dan tipu daya Ambarukmo, selain wujud Panji dan Rangin dirubah menjadi seekor buaya dan ikan hiu, kedua muridnya itu pun lantas diadu domba hingga mereka pun nyaris saling membunuh.

Sadar bahwa mereka telah diperalat dan diadu domba, sang hiu yang diberi nama Sura dan sang buaya yang dinamakan Baya, lantas berbalik menyerang Amabarukmo hingga sang guru tewas mengenaskan. Bahkan Sura dan Baya pun taku luput dari ajal.

Namun, sebelum kematian menjemput mereka berdua, Sura dan Baya sempat menyerahkan tusuk konde emas kepada sang gadis pujaan. Maka, demi mengingat jasa dan pengorbanan Sura dan Baya, wilayah itu kemudian diberi nama Surabaya.

(Terima kasih dan kredit diberikan kepada http://www.indosiar.com/)

25 Mei 2010 - Posted by | Kumpulan dongeng

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: